Newsletter – March 2019: Character of a Woman & Freedom of Expression

1.

What does being a woman means to you?

Being a woman is very exciting, but at the same time can be a little problematic because of the perception of society. Some people still think that woman’s role is limited to giving birth and being a housewife. In fact, women can be anything they want, working and making impacts for their country, because we are as strong as men. I believe women and men basically are just the same, since we are all just human beings. It’s just with being a woman, we naturally have a harder role that requires us to be able to multi-task, since we were born with the ability to bring new life into this world.

Menjadi perempuan sangat menyenangkan tapi pada saat yang sama bisa jadi cukup problematis, terutama karena pandangan masyarakat terhadap perempuan. Masih ada yang menganggap peran seorang perempuan hanya melahirkan anak dan mengurus rumah tangga saja, padahal perempuan itu makhluk yg sangat kuat dan mampu berkarya dan berjuang untuk bangsanya, sama seperti pria. Menurut saya wanita dan pria pada dasarnya sama saja karena kita sama-sama manusia, hanya saja sebagai perempuan, kita memiliki banyak peran dan dituntut untuk bisa multi-tasking, karena kita lahir dengan kemampuan untuk bereproduksi dan menghadirkan manusia lain ke dunia ini.

2.

What do you think of being a woman in the creative industry in Indonesia? Is there any particular challenges? And rewards?

During my time working in this industry, I’ve never experienced any particular hardship for being a woman. It’s just many times I have the opportunity to work with other women. One of those opportunities is when I was working with the housewives of Rusun Marunda. In the program initiated by Mr. Ahok & Mrs. Veronica, we were making fabric that was inspired by the city of Jakarta, and I took Semanggi Interchange as my inspiration. Since they have never done any batik work before, we taught them from the very basic on how to do the work. It’s very interesting to see how they grew as a woman. At the very beginning, they weren’t making any eye contact when they are talking. I think some things, like ingrained thoughts of women as lower than men, caused these housewives to have low self-esteem. When we taught them new skill, just as simple as doing batik work, I can see that their confidence has grown in those couple of months. They feel proud that they can do things by themselves and earn money on their own. I learned that this program has became some kind of women empowerment. Additionally, another thing that I learned from the housewives is as long as we want to keep learning and not easily discouraged, we are able to learn new skills and abilities, because it’s more about passion and intention, instead of talent.

Selama bekerja di industri ini, saya tidak pernah merasakan kesulitan yang disebabkan karena saya perempuan. Hanya saja saya mendapat banyak kesempatan untuk bekerja sama dengan perempuan-perempuan lainnya. Contohnya ketika saya mendapatkan kesempatan bekerja dengan kelompok ibu-ibu dari Rusun Marunda. Dalam program dari Pak Ahok & Ibu Veronica ini saya membuat kain dengan inspirasi kota Jakarta, dan saat itu saya mengambil inspirasi dari Jembatan Semanggi. Karena ibu-ibu ini belum pernah membatik sebelumnya, maka kami memberikan pelatihan untuk membuat motif tersebut di kain. Dari situ saya melihat perkembangan mereka sebagai seorang perempuan. Pada awalnya, ketika bicara mereka bahkan tidak berani untuk langsung melakukan kontak mata. Banyak hal, antara lain pemikiran yg mendarah daging di Indonesia yg memperlakukan wanita sebagai warga kelas dua, yang membuat mereka memiliki kepercayaan diri yang rendah. Ketika kami membekali mereka dengan ilmu, bahkan sesederhana ilmu membatik, saya melihat bahwa dalam beberapa bulan kepercayaan diri mereka mulai tumbuh. Mereka merasa bangga bisa menghasilkan uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya belajar bahwa program ini secara tidak langsung telah meningkatkan pemberdayaan perempuan. Dan satu hal lain yang saya pelajari dari ibu-ibu ini adalah asalkan kita terus mau belajar dan tidak patah semangat, kita mampu menguasai ilmu baru dan mampu untuk berkarya, karena ini semua masalah niat dan bukan bakat.

3.

What is ‘freedom’ to you? How does it involve in the development of your projects? How do you see freedom in creativity in Indonesia?

Since I am working in the fashion industry, for me, fashion is freedom. There is no rules to follow in fashion, everyone has the freedom to express themselves based on their characters. I believe every person is different and we should embrace those differences. With this freedom, we learn to explore what is right and wrong for us, and don’t be afraid to do a lot of mistakes while we’re young, that’s how we learn to know ourselves better. Especially in doing our work, we need to go through process to be mature and to know what works for us. This process takes time, it’s not something that comes out instantly.

Karena saya bekerja di bidang fashion, untuk saya, fashion adalah kebebasan. Dalam fashion tidak ada aturan yang pasti, kita punya kebebasan untuk berekspresi sesuai dengan karakter masing-masing. Saya yakin semua manusia itu berbeda-beda, dan perbedaan itu adalah sesuatu yg harus kita banggakan. Dalam kebebasan itu, kita belajar untuk mengeksplorasi mana yang salah dan mana yang benar. Ketika masih muda, jangan takut untuk melakukan kesalahan sebanyak-banyaknya, dari situ kita bisa belajar untuk mengenali diri kita. Terutama dalam berkarya, kita butuh proses untuk menjadi lebih matang, untuk mengetahui seperti apa gaya kita, dan proses itu membutuhkan waktu, bukan sesuatu yang instan.

4.

How do you express yourself as a designer?

I like to have freedom to explore with my works. However, I put my own limitations on my freedom. I try to be a designer with the responsibility to mother nature. I try not to hurt another living creatures and leave as little as possible trash for the earth. For example, we mostly use cotton as the material for our fabric, since cotton is more sustainable material. I try to contribute more positivity for the future.

Saya senang memiliki kebebasan untuk bereksplorasi dalam karya saya, tapi ada batasan untuk kebebasan saya. Saya berusaha menjadi designer yg bertanggung jawab pada bumi. Saya berusaha untuk tidak menyakiti makhluk hidup lainnya dan meninggalkan sesedikit mungkin sampah untuk bumi ini. Contohnya kain kami mayoritas menggunakan katun, karena katun adalah material yang lebih gampang terurai. Saya berusaha untuk menyumbangkan hal yang positif untuk masa depan.

5.

What influences and inspires you? (focus on values of life instead of a person)

I always return to our roots, Indonesian culture. My inspiration comes from Indonesian nature, the small things that surround me, and the people around me. Take example from our first collection with the rooster pattern, the inspiration is just as simple as the rooster and flower pattern on the bowl of noodles that I like to eat with my friends. Then there is an exhibition that’s inspired by Indonesian folklore “Timun Mas”, because my children didn’t know about this folklore, and I feel like there is no media to introduce this story to them.

Saya selalu melihat kembali kepada budaya Indonesia. Saya selalu mengambil inspirasi dari alam Indonesia, dari hal-hal kecil yang ada di sekitar saya, dan dari orang-orang yang berada di sekeliling saya. Contohnya untuk koleksi pertama saya mengambil bentuk ayam, sesederhana motif ayam dan bunga yang ada di mangkok bakmi yang sering saya makan bersama teman-teman. Lalu saya sempat membuat pameran yang terinspirasi dari dongeng anak-anak “Timun Mas”, karena saya merasa anak-anak saya tidak mengetahui tentang cerita dongeng Indonesia, dan tidak ada media untuk mengenalkan ini kepada mereka.

6.

Is there any particular story / approach behind your works? And what impact do you wish it will have to your audience?

I believe that small things that we do consistently can bring a powerful impact. At the “Timun Mas” exhibition, for example, it turns out that a lot of people who came don’t know about the story. We tried to retell the story through motion graphic and interesting installation, so people can learn in more entertaining way. From there, many have just realized the richness of Indonesian culture. I believe that Indonesians are proud with our own culture, but there’s just too many outside influence and the desire to be another country. Just as simple as creating the exhibition, people came and learned to appreciate Indonesian culture.

Saya yakin bahwa hal-hal kecil yang kita lakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang kuat. Mungkin saya bisa mengambil contoh pada pameran “Timun Mas” yg kami lakukan kemarin, di mana banyak pengunjung yang datang belum tahu tentang dongeng ini. Di pameran tersebut kami menceritakan kembali dengan motion graphic dan instalasi yang menarik, sehingga pengunjung belajar dengan cara yang lebih menghibur. Dari situ banyak yang baru menyadari kekayaan budaya Indonesia. Saya yakin orang Indonesia sebenarnya senang dengan budaya kita sendiri, tapi di masa sekarang terlalu banyak pengaruh dari luar dan keinginan untuk seperti negara lain. Tapi dengan sesederhana adanya pameran tersebut, orang yang datang belajar dan lebih menghargai budaya kita sendiri.

7.

What are the things that you find important in creating works / projects? (Philosophical values)

I think this question is answered in no. 4 & 5

8.

What are the most challenging things you find in creating your works?

The process of production. Since our product is handmade, it relies a lot on the hand of the people who made it. Natural conditions, like weather, also has major influence to the color and material. These are things that I can’t control, but I came to embrace this process. We are used to live in the big city where everything is fast and comes in an instant. These challenges remind me that as a human, it is important to stop once in a while, take a breath and just enjoy the process. We can earn back the money that we’ve lost, but we’ll never know how much time we have left in this life, so better enjoy it while we can.

Yang pasti proses produksinya. Karena produk kita itu buatan tangan, maka sangat tergantung pada tangan manusia. Kondisi alam yang berbeda, panas dan hujan, juga sangat mempengaruhi warna dan material. Ini adalah hal yang tidak bisa saya atur, tapi dari situ saya belajar untuk menghargai proses itu sendiri. Kita sudah terbiasa hidup di kota besar di mana semua serba instan. Tantangan2 dalam proses produksi ini mengingatkan saya bahwa penting sebagai manusia untuk berhenti sekejap, menarik napas dan menikmati proses yg ada. Uang masih bisa dicari namun waktu yang tersisa dalam hidup, kita tidak akan pernah tahu, jadi sebaiknya menikmatinya selagi kita bisa.

9.

What influence do you wish your works give to people and surrounding environment? (especially to women)

I think this question is answered in no. 2, 4 & 6

10.

What do you wish for other creative Indonesians to aspire to when creating their projects? (so we can have a better future for all)

I think it’s crucial for creative Indonesians to divine between inspiration and plagiarism. I believe that ideas can come from anywhere, as long as we want to look and dig deeper. As a creative, we have to be ashamed if we copying the work of other creatives. I believe in our work and creativity.

Menurut saya penting bagi pelaku kreatif Indonesia untuk bisa membedakan antara terinspirasi dan menyontek. Saya yakin yang namanya ide itu banyak dan inspirasi tersebar di mana-mana, asalkan kita mau melihat lebih dalam. Sebagai pelaku kreatif, kita harus membudayakan rasa malu dalam menjiplak hasil karya pelaku kreatif lainnya. Saya percaya orang Indonesia memiliki kreatifitas dan mampu untuk berkarya tanpa menjiplak.

11.

Lastly, do you have any regrets? Or what will you do differently if you can turn back time?

I should say that I have no regrets, because I believe everything that happens in our life is a process. The world is spinning, and sometimes we need to fall in order to become who we are now. Sometimes things don’t come our way, but I believe that we always have to take on the positive side, and move forward. Moreover, instead of hoping people to do something, let’s start with ourselves to always be honest and spread kindness, without expecting anything in return.

Kalau penyesalan saya tidak ada, karena saya percaya semua yg terjadi dalam hidup kita adalah sebuah proses. Dunia itu berputar, kadang memang kita harus jatuh dulu untuk bisa sampai ke posisi sekarang. Mungkin hal yang terjadi dalam hidup kita tidak selalu baik, tapi apapun yang terjadi saya yakin kita harus tetap selalu mengambil yang positif. Tidak perlu mengharapkan orang lain berlaku seperti apa, tapi mulai dari diri kita sendiri untuk selalu jujur dan berbuat baik, tanpa mengharapkan balasan yg baik untuk diri kita.